Setelah menjalani hari libur sabtu di
Pare kampung inggris yang hanya dihabiskan dengan bangun agak siang, kemudian
renang di kolam terdekat dengan kos-kosan, sarapan makan siang tidur siang.
Hari berlalu seperti biasanya. Kemudian semua menjadi hening seketika ketika
sesorang menulis wa di grup. Isinya adalah undangan acara makan dirumahnya yang
akan diadakan bulan depan. Semua orang pasti sudah menebak bahwa itu adalah
acara lamaran. Walaupun Tiwi, salah satu teman yang aku panggil “emak” karena
memang sudah selayaknya ibu semenjak ngekos di Bandarlampung ketika melanjutkan
kuliah S1, mengatakan bahwa mungkin saja itu adalah acara tasyakuran karena SK
pegawai nya turun. Hehehe. Dia tidak tahu bahwa aku sudah lama mengetahui bahwa
akan ada acara lamaran bulan depan, Oktober tepatnya dan akan ada acara resepsi
di tahun depan bulan keempat.
Suasana hati dan badan sudah bisa menerima kenyataan itu sejak lama.
Sehingga sudah tidak ada penolakan lagi di hati dan pikiran untuk mendengan
kabar-kabar seperti itu. Hanya saja sejenak terpikir kejadian 5 tahun silam.
Kejadian itu dimulai ketika aku
ditinggalkan oleh wanita yang sangat saya idamkan. Dalam masa pemulihan
tersebut masuklah ke dalam suatu grup belajar yang pada akhirnya kami
menganggap satu sama lain seperti keluarga. Dan sampai sekarang ikatan itu
masih terjalin. Pada grup terssebut, dekatlah aku dengan salah satu wanita yang
pada kala itu senasib denganku karena dia juga baru saja ditinggalkan oleh
laki-laki yang sedang dekat dengannya.
Karena seringnya waktu bersama
dihabiskan untuk belajar bersama. Lama kelamaan rasa itu muncul. Rasa yang
lebih dari sekedar teman. Teringat mulanya kami sering mengejek dengan sebutan
aku dipersamakan dengan nama seorang koruptor waktu itu, dan aku memanggilnya
sebagai nama dari istri si koruptor. Dimulai dari sering bersama, bercanda
setiap hari. Pada akhirnya rasa memiliki satu sama lain timbul. Semua teman
yang dianggap keluarga menanyakan perihal hubungan kami. Karena kedekatan yang
di rasa sudah tak biasa. Akhirnya aku meminta saran kepada beberapa teman.
Disimpulkan bahwa aku harus menyatakan rasa itu.
Akhirnya pada malam tanggal 20-10-2013
aku menyatakan perasaanku padanya. Aku meminta dia memikirkannya dan
menjawabnya keesokan harinya. Akhirnya ketika di kampus dia menjawabnya.
Semalam dia bilang bahwa kita jalani saja tidak usah tanpa ikatan, lantas aku
menolaknya. Karena berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan wanita yg sangat
saya idamkan. Tidak adanya ikatan, tidak ada hak untuk menanyakan ketika dia
pergi begitu saja. Akhirnya dia menerima perasaan ini.
Setahun pertama semua begitu indah.
Sampai satu sama lain mengetahui pribadinya masing-masing. Ujungnya ketika aku
harus melanjutkan S2 di salah satu universitas ternama di Depok. Dia juga harus
bekerja karena diterima di kementerian. Jauh dari kampung halaman, namun kami
sebenarnya tidak terlalu berjauhan karena tempat dia bekerja dan aku kuliah
hanya satu jam perjalanan motor. Namun pertemuan yang semakin jarang. Dia sibuk
bekerja, aku sibuk kuliah. Paling hanya bertemu di weekend saja. Sehingga
pertemuan tak se intens saat kuliah S1 sampai lulus.
Yang ada dalam benakku adalah kenapa
kami tak berjauhan sekalian sehingga tak ada kesempatan untuk bertemu dan aku
tak berharap. Karena jarak tak terlalu jauh sehingga harapan selalu muncul
sedangkan dia sibuk bekerja demi masa depannya. Kesalahanku bermula dari situ.
Semenjak saat itu aku lebih dekat dengan teman sekelas. Waktu belajar dan free
yg relatif sama. Bertemu setiap hari menyebabkan kami semakin dekat. Dia mulai
nyaman denganku. Aku juga mulai nyaman dengannya. Awalnya aku hanya menganggap
dia seperti teman biasa, seperti adek karena dia sering bertingkah seperti anak
kecil. Dia juga mengetahui bahwa saya sudah punya pasangan.
Sehingga saya tak pernah menolak ketika
dia mengajak saya pergi makan, nonton, dan mengantar kemanapun dia pergi.
Sampai akhirnya dia menghubungi pasangan saya. Disitu aku seperti di bakar.
Ternyata dia akhirnya menaruh hati padaku. Dan menyuruh aku memutuskan
hubunganku dengan pasanganku. Dan
memintaku berpacaran dengannya. Spontan aku menolaknya. Sampai akhirnya dia
meminta untuk memtuskan pasanganku walau tak berpacaran dengannya. Agar kami
bisa berteman tanpa di ganggu oleh pasanganku katanya. Aku tetap menolak dan
mempertahankan pasanganku.
Kami ribut hebat. Sungguh baiknya
pasanganku, dia tidak lantas memutuskan hubungan denganku. Acara resepsi
kakanya, aku dan keluargaku datang. 3 bulan kemudian. Tepatnya seminggu setelah
hari ulang tahunku. Tiba-tiba dia tidak ada kabar seharian. Sampai malamnya aku
menanyakan apa kesalahanku. Karena aku merasa hari itu tak melakukan apapun.
Dia bercerita bahwa dia selama 3 bulan setelah kejadian itu, tidak pernah bisa
melupakan dan berpikir bagaimana jika itu terulang kembali setelah menikah. Dan
akhirnya dia memutuskan hubungan kami setelah terjalin 4 tahun.
Terlalu banyak kenangan yang harus
dilupakan. Saya down sebulan pertama sampai ibu saya memberikan motivasinya.
Akhirnya setelah tiga bulan berlalu aku mulai bisa mengikhlaskan semua itu.
Dalam diri selalu menampik bahwa diri telah berselingkuh, padahal semua orang
sadar bahwa aku telah berselingkuh. Kejadian yang cukup terjadi sekali seumur
hidupku. Takkan kuulangi lagi. Karena kejadian itu aku kehilangan wanita yang
selama ini aku harapkan menjadi istriku.
Tepatnya hari ini dia mengumumkan acara
lamarannya yang akan diadakan bulan depan. Hatiku sudah lagi tak berkecamuk
namun terngiang semua kenangan dan rencana-rencana yang akan kami lakukan. Kami
berencana menikah April 2019. Dan pada akhirnya dia akan menikah pada April
2019. Tidak meleset dari target. Hanya saja dengan calon mempelai pria yang
berbeda. Dan itu bukan AKU. Itulah kejadianku hari ini.
Kutulis semua ini di tempat makan depan
kosanku. Awalnya tidak terlalu ramai. Sampai tak kusadari saking asyiknya
menulis, ternyata ramai dan banyak orang tak mendapatkan tempat duduk.
Tiba-tiba datang wanita menghampiriku, meminta izin untuk duduk disebelahku.
Ternyata dia adalah orang yang sering aku lihat ketika study club malam karena
sering duduk bersebelahan. Tanpa mengenal satu sama lain.....
To be continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar